Setiap hari aku melihat sosok itu, sosok yang sangat
aku kagumi. Sosok yang selalu ada dalam fikiranku. Sosok yang selalu aku
khayalkan. Dan sosok yang sangat sangat sangat aku inginkan yaitu kamu.
Aku tak mengerti tentang semua rasaku yang ku pendam
untuk dirimu ini. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus
membicarakan ini kepadamu? Apa aku harus mendekatimu?. Bagaimana bisa aku
mendekatimu dan membicarakannya padamu. Sedangkan kau saja tidak mengenalku.
Dan aku? Aku hanya mengetahui namamu, hanya dapat memandangmu dan
memperhatikanmu dari kejauhan.
Sebuah rasa yang setiap hari menghantuiku. Apa itu?
Apa mungkin itu cinta? Atau mungkin ketertarikan sesaat saja? Entahlah, aku tidak
tahu. Yang hanya ada dalam fikiranku adalah bagaimana caranya agar kamu
mengenalku. Kamu mengenalku saja itu sudah amat membuat hatiku senang.
Sampai disebuah hari, dimana temanku memperkenalkan
aku kepadamu. Rasanya begitu indah peristiwa pengenalan diri itu. Bayangkan
saja, sudah 5 bulan lebih aku mengaguminya diam-diam. Sudah 5 bulan lebih aku
memperhatikannya dari kejauhan. Tapi 5 bulan lebih itu sudah terbalas dengan
peristiwa perkenalan yang menurutku itu sangat berarti. Walau aku tidak tahu
bagaimana kedepannya nanti. Apakah menghasilkan tawa dan ceria? Atau malah
menghasilkan luka dan air mata? Aku tidak tahu itu.
Sampai pada waktunya, jika kita berdua bertemu dan
berpapasan di jalan, ia memberikan senyumanmu itu untukku. Seakan aku merasa
dunia ini seperti berhenti berputar. Seakan dunia ini ikut tersenyum ketika kau
berikan satu senyuman manis itu untukku. Andai ia tahu rasa yang kusimpan ini.
dan alangkah bahagianya aku jika kamu memiliki rasa yang sama seperti diriku.
Tapi aku tidak mau berkhayal terlalu tinggi. Apalagi, mengkhayalkanmu untuk
menjadi milikku. Itu tidak akan mungkin.
Waktu terus berputar, makin hari aku semakin dekat
dengannya. Pesan singkat, dan media sosial, ya itulah yang membuat aku dan dia
semakin dekat. Semakin dekat, semakin dekat, dan begitu dekat. Sampai waktu
membawaku untuk memutuskan agar membicarakan rasa ini padanya, dan menanyakan
bagaimana ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Sebenarnya aku sudah tau
hasil jawaban itu. Aku sudah tau apa yang ada dalam isi hatinya. Hanya saja aku
ingin membicarakan perasaanku ini tanpa ingin mendapatkan rasa yang sama dari
dirinya.
Bodoh memang. Sangat bodoh! Seharusnya aku tidak
menanyakannya padamu. Seharusnya! Kenyataannya memang ia tidak memiliki rasa
yang sama sepertiku. Ia mencintai orang lain. Ia mencintai seseorang yang
membuat kesehariannya begitu indah. Sedih memang saat mengetahui seseorang yang
kita cintai mencintai orang lain.Tuhan, bagaimana aku bisa tersenyum jika sudah
seperti ini? Tuhan, aku sakit. Tuhan, apakah ini takdirmu? Takdir yang tidak
mengizinkan aku untuk memilikinya. Tuhan, berikanlah kemudahan untuk aku agar
bisa merelakannya.
Hari ini tidak seperti hari-hari yang sebelumnya. Ia
tak pernah lagi menghubungiku, ia tidak lagi hadir dalam hari hariku. Mungkin,
hari-hari yang ia lalui seperti biasanya. Tapi bagiku? Ini tidak seperti
biasanya.
Jarum jam terus
berputar, waktu terus berjalan. Air mataku terus mengalir, menghiasi keseharian
yang aku lewati. Sampai kapan aku seperti ini? Sampai kapan? Sosok yang biasanya
membuatku bersemangat menjalani keseharian, kini? Kini ia telah pergi, menjauh
dariku. Apa aku salah memiliki rasa yang teramat dalam ini untukmu? Apa aku
salah? Yaa, mungkin aku salah memiliki rasa yang teramat dalam ini. Atau
mungkin aku mencintai orang yang salah?. Kadang aku berkata dalam hati... “
mungkin memang aku tidak pantas untuk disayang. Mungkin aku tidak pantas
mendapatkan rasa yang begitu indah darimu..”
Aku tidak tahu apa yang
dapat membuat semangat hidupku bakit kembali. Aku tidak tahu. Namun akhirnya
aku berfikir, aku masih mempunyai Tuhan yang begitu menyayangiku, aku masih
punya orang tua yang sangat mencintaiku, dan aku masih punya teman-teman yang
selalu ada buat aku. Aku punya mereka. Mereka yang membuat aku kembali bersemangat
menjalani keseharianku. Walau peristiwa
ini sangat menyiksa hati, tapi aku tidak akan menyingkirkannya dari hati, dan
isi otakku. Tidak pernah! Dan, Tidak akan pernah!