Senin, 29 Juli 2013

aku suka kamu, kamu suka dia


Setiap hari aku melihat sosok itu, sosok yang sangat aku kagumi. Sosok yang selalu ada dalam fikiranku. Sosok yang selalu aku khayalkan. Dan sosok yang sangat sangat sangat aku inginkan yaitu kamu. 
Aku tak mengerti tentang semua rasaku yang ku pendam untuk dirimu ini. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus membicarakan ini kepadamu? Apa aku harus mendekatimu?. Bagaimana bisa aku mendekatimu dan membicarakannya padamu. Sedangkan kau saja tidak mengenalku. Dan aku? Aku hanya mengetahui namamu, hanya dapat memandangmu dan memperhatikanmu dari kejauhan.
Sebuah rasa yang setiap hari menghantuiku. Apa itu? Apa mungkin itu cinta? Atau mungkin ketertarikan sesaat saja? Entahlah, aku tidak tahu. Yang hanya ada dalam fikiranku adalah bagaimana caranya agar kamu mengenalku. Kamu mengenalku saja itu sudah amat membuat hatiku senang.
Sampai disebuah hari, dimana temanku memperkenalkan aku kepadamu. Rasanya begitu indah peristiwa pengenalan diri itu. Bayangkan saja, sudah 5 bulan lebih aku mengaguminya diam-diam. Sudah 5 bulan lebih aku memperhatikannya dari kejauhan. Tapi 5 bulan lebih itu sudah terbalas dengan peristiwa perkenalan yang menurutku itu sangat berarti. Walau aku tidak tahu bagaimana kedepannya nanti. Apakah menghasilkan tawa dan ceria? Atau malah menghasilkan luka dan air mata? Aku tidak tahu itu.
Sampai pada waktunya, jika kita berdua bertemu dan berpapasan di jalan, ia memberikan senyumanmu itu untukku. Seakan aku merasa dunia ini seperti berhenti berputar. Seakan dunia ini ikut tersenyum ketika kau berikan satu senyuman manis itu untukku. Andai ia tahu rasa yang kusimpan ini. dan alangkah bahagianya aku jika kamu memiliki rasa yang sama seperti diriku. Tapi aku tidak mau berkhayal terlalu tinggi. Apalagi, mengkhayalkanmu untuk menjadi milikku. Itu tidak akan mungkin.
Waktu terus berputar, makin hari aku semakin dekat dengannya. Pesan singkat, dan media sosial, ya itulah yang membuat aku dan dia semakin dekat. Semakin dekat, semakin dekat, dan begitu dekat. Sampai waktu membawaku untuk memutuskan agar membicarakan rasa ini padanya, dan menanyakan bagaimana ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Sebenarnya aku sudah tau hasil jawaban itu. Aku sudah tau apa yang ada dalam isi hatinya. Hanya saja aku ingin membicarakan perasaanku ini tanpa ingin mendapatkan rasa yang sama dari dirinya.
Bodoh memang. Sangat bodoh! Seharusnya aku tidak menanyakannya padamu. Seharusnya! Kenyataannya memang ia tidak memiliki rasa yang sama sepertiku. Ia mencintai orang lain. Ia mencintai seseorang yang membuat kesehariannya begitu indah. Sedih memang saat mengetahui seseorang yang kita cintai mencintai orang lain.Tuhan, bagaimana aku bisa tersenyum jika sudah seperti ini? Tuhan, aku sakit. Tuhan, apakah ini takdirmu? Takdir yang tidak mengizinkan aku untuk memilikinya. Tuhan, berikanlah kemudahan untuk aku agar bisa merelakannya.
Hari ini tidak seperti hari-hari yang sebelumnya. Ia tak pernah lagi menghubungiku, ia tidak lagi hadir dalam hari hariku. Mungkin, hari-hari yang ia lalui seperti biasanya. Tapi bagiku? Ini tidak seperti biasanya.
Jarum jam terus berputar, waktu terus berjalan. Air mataku terus mengalir, menghiasi keseharian yang aku lewati. Sampai kapan aku seperti ini? Sampai kapan? Sosok yang biasanya membuatku bersemangat menjalani keseharian, kini? Kini ia telah pergi, menjauh dariku. Apa aku salah memiliki rasa yang teramat dalam ini untukmu? Apa aku salah? Yaa, mungkin aku salah memiliki rasa yang teramat dalam ini. Atau mungkin aku mencintai orang yang salah?. Kadang aku berkata dalam hati... “ mungkin memang aku tidak pantas untuk disayang. Mungkin aku tidak pantas mendapatkan rasa yang begitu indah darimu..” 
Aku tidak tahu apa yang dapat membuat semangat hidupku bakit kembali. Aku tidak tahu. Namun akhirnya aku berfikir, aku masih mempunyai Tuhan yang begitu menyayangiku, aku masih punya orang tua yang sangat mencintaiku, dan aku masih punya teman-teman yang selalu ada buat aku. Aku punya mereka. Mereka yang membuat aku kembali bersemangat menjalani keseharianku. Walau peristiwa ini sangat menyiksa hati, tapi aku tidak akan menyingkirkannya dari hati, dan isi otakku. Tidak pernah! Dan, Tidak akan pernah!