Sabtu, 21 Desember 2013

Hilang arah


Dinginnya malam membuat aku terdiam. Menikmati detik demi detik sendiri hingga sang fajar datang. Aku merasa ada yang berbeda malam ini. Sekilas aku berpikir, aku seperti ini karena aku kesepian. Namun hati kecilku berkata “bukan”. Jadi apa yang berbeda malam ini?

Sepintas cahaya-cahaya seribu bintang bersinar terang satu persatu. Indahnya merekaaa... aku terpaku memandang bintang yang sinarnya mampu membuat hati tenang. Hingga aku merasa, ada teman dimalamku.

Sesekali ku lihat handphone yang sedang aku genggam. Tak ada satupun pesan singkat darinya. Tak ada kabar untuk hari ini untukku.

Pikiran kosongku tlah dirasuki olehmu. Aku membayangkanmu, aku merindukan belai kasihmu. Entah setan apa yang merasuk tubuhku malam ini. Entah harus bagaimana aku melawannya.

Aku baru ingat dia telah putuskan aku. dia berpaling dariku. dia memilih pergi bersama seseorang yang menurut dia, dapat membuat hidupnya bahagia.

Aku salah. Aku jelas salah melepaskannya. Tapi disisi lain aku ingin melihat ia bahagia dengan kebebasan yang diinginkannya.  kadang aku merasa hidupku hancur. karena semangatku telah hilang. aku ingin keluar dari belenggu ini.

Terakhir, dia marah kepadaku. dia mengatakan, aku ini pengganggu dalam hidupnya.
Apakah dia tau? Apa alasanku bersepeda pada malam hari di tengah jalan raya tanpa pelindung apapun dengan kecepatan tinggi? aku berharap ada kendaraan yang menabrakku hingga membentur kepalaku, sehingga ada kerusakan pada otakku, dan hilang semua ingatanku, juga hilang semua kenangan kita, hingga dia hilang dipikiran otakku. Hingga jika “aku dan dia” bertemu, aku tidak mengenalnya.


Aku tidak tau apa yang sedang aku lakukan. aku kehilangan arah, aku kehilangan semangat hidupku, aku kehilangan segalanya yang dulu pernah aku miliki. Aku merindukan semua yang dulu pernah aku punya, yaitu sosok “KAMU”.

Rabu, 18 Desember 2013

RINDU


Rindu. Rindu itu ketika kamu tak lagi disini. Rindu itu ketika kamu memilih untuk pergi. rindu itu ketika aku dan kamu mulai berjarak. Rindu itu ketika detik tak lagi kita lalui bersama.Rindu itu ketika “kita” menjadi “aku dan kamu”.

Rindu kebersamaan yang kita lalui. “Rindu”. Kata itu berarti besar dalam hati ini. “Rindu” tak mengenal waktu,tempat, ataupun keadaan. Rinduku untukmu seringkali datang menghantui setiap detik yang aku lewati sendiri. Aku tak ingin mengenal kata “RINDU”. Tapi rindu itu selalu inginkan aku untuk mengenalnya, membuat aku ingat akan masa lalu yang pernah aku lalui bersamamu.

Terkadang aku berpikir, apa kamu ingat waktu kita pertama dekat? Apa kamu ingat waktu kita masih saling menyayangi? Apa kamu ingat saat kita sedang menikmati dinginnya malam berdua? Apa kamu tahu,apa yang aku rasakan? Aku merindukan kenangan yang kita rajut bersama. Entah mengapa ku terus bertahan seperti ini. Kadang aku memilih untuk pergi,namun aku tak bisa melakukan itu. Aku tak sanggup. Aku tak sangguuup! Aku mohon jangan buat aku seperti ini. Aku hanya ingin kau ingat masa-masa manis yang pernah kita buat. Apakah kau ingat? Ataukah kau sudah melupakannya?

          Saat pertama kali bertemu denganmu. Tatapan matamu membuat aku jatuh hati kepadamu. Kamu tau? Aku sangat merindukan tatapan lembut itu. Kapan saat-saat itu datang kembali? Aku rindu kamu. Ya, memang aku hanya rindu kamu.

          Jika rindu itu datang, aku hanya bisa diam. Membayangkan yang pernah terjadi diantara kita. Sakit memang. Mengaku Rindumu, tapi tak di gubris olehmu.  Mengaku sayang, tapi engkau hanya diam.

Diammu membuat aku kalut. Diammu membuat aku terluka. Diammu membuatku gelisah.Diammu membuat kristal bening jatuh di sudut kelopak mata ini. Apa diammu membawa arti? Apa diammu mempunyai makna? Jika iya, apa arti semua ini?

Kapan tangan lembutmu menggenggam jemari ini lagi? Kapan ketikanmu membuat aku tersenyum kembali? Kapan aku dapat melihatmu lagi? Jika semua bisa terjadi lagi, kapan semua itu akan terulang kembali?

Kemana sosokmu yang dulu pernah siap sedia membuatku tersenyum? Kemana kata-katamu yang selalu buatku melayang? Tangan mungilmu yang sering menghapus tetes demi tetes air mataku, kini tlah tiada. Kemana dirimu yang dulu mencintai sisi gelap dan sisi terangku? Kemana rasa sayang yang dulu pernah ada? Kemana?

Kini ku sendiri menahan rindu. Mungkin hanya aku yang merasakan pahitnya merindukanmu.

Apa merindukanmu harus sesakit ini? Aku rindu kamu. Aku rindu semua kenangan yang pernah kau beri. Kapan kau sadar akan semua itu?

Tak ada yang mampu mengerti arti rindu ini. kamu yang aku rindukan pun tak mau tau arti rindu yang aku rasakan.aku lelah diperdaya oleh rindu yang aku rasakan. Asaku tak sanggup mematikan cahaya rindu yang semakin bersinar. Aku tak mampu mematikan cahaya rindu itu. Meredupkannya pun aku tak mampu !

Izinkan aku pergi dan meninggalkan rindu ini bersama dirimu yang kini pergi entah kemana. Yang mungkin pergi karena sosok lain. sosok yang lebih sempurna dibanding aku. tidak apa jika kau menginginkan itu. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui.... “ Aku sayang kamu. Aku merindukanmu” mungkin pernyataan itu sudah tak berarti apa-apa dalam hidupmu. Jika memang benar, itu tidak berarti, Abaikanlah! Abaikanlah!


Rindu itu akan hilang dengan sendirinya. Bukan! Bukan karena aku lelah akan rindu ini tapi aku tak mau terlalu memasuki dunia khayalanku. Khayalan tinggi yang mungkin dapat menjatuhkan aku. Biarlah! Biar aku simpan rindu ini dalam diam. 

Minggu, 03 November 2013

Setelah luka

Setiap hari ku lihat sosok itu di pinggir jalan tepat di depan gerbang kampusku. Menunggu seorang wanita yang biasanya dia antar pulang. Mata ini terus memerhatikan sosok itu selalu melihat setiap gerak geriknya.

“Terus aja diliatin” celetuk putri dengan tatapan sinis kepadaku.

“Dia manis sih put.Salah ga sih kalau gua cinta dia?”

“Ga salah. yang salah itu,lu ga pernah coba nyamperin dia dan coba ajak dia kenalan”

Aku tersenyum.

“ko cuma senyum? Kenapa? Ga berani? Takut? ”

Aku mengangguk pelan.

“aduh ayu, mau sampai kapan lu diperbudak sama rasa takut lu itu?”

“gua aja ga tau put”

“ga tau? Lu jawab ga tau? Kalau kaya gini terus, lu sama aja nyiksa hati lu sendiri yu” 
Tatapan lurus tepat ke arahku.

Aku terdiam. Aku benci dikasihani.

Sosok wanita yang ditunggu itu menghampiri dia. Terlihat senyum yang ia lontarkan untuk sosok wanita itu.

“sakit kan? Liatin aja terus yu”

“Dengan melihat senyumannya aja gua udah bahagia ko put.” Ucapku sambil memerhatikan ia yang sedang bersama sosok wanita itu.

“lu cuma berani menatap? Apa lu ga capek?”

Pertanyaannya terus menyudutkanku. Pertanyaan yang selalu memaksaku mendekat pada sosok itu. Pertanyaan yang terus mencoba mematikan aku, membuat aku tak bisa menjawabnya dengan cepat.

“Apa lu bilang? Bahagia?” Putri menatapku, ia terus mencari jawaban lewat tatapanku. 

Aku benci tatapan itu.

Sosok wanita itu tersenyum manja kepadanya. Bercanda tawa tanpa menyadari ada sosok lain yang memerhatikan mereka dari jauh.

“Bahagia itu sangat sederhana put. Melihat ia tersenyum, walau itu bukan dikarenakan oleh sosok gua”

“Sosok lu? Dia aja ga kenal sama lu yu....” mata putri melirik tajam ke arahku.

“Udah ah put. Terselah lah lu mau ngomong apa.” kepalaku tertunduk.

“Buat apa sih lu kaya gini terus yu. Lu tuh seakan-akan kehilangan rasa keberanian lu yu. Percuma yu, kalau dia ga tau perasaan lu itu. Percuma!” Hentak Putri kepadaku.

Aku tersenyum lembut.

Cinta terlalu rumit bagiku. Terlalu banyak hal yang tak pasti. Bodoh memang, mengapa dengan melihat senyumannya saja,kadang itu sudah membuat aku bahagia. Namun, kadang membuatku terluka. Karena aku tahu senyuman itu bukan dikarenakan oleh sosok aku.

“Lu tuh tolol tau ga yu. Lu tuh lemah banget sih. Cuma disuruh kenalan doang aja takut.”

Aku tersenyum tipis. “terus apa yang harus gua lakukan put?”
“kenalan”
“apa? duh, itu tantangan yang sangat menantang put”
“Lu Cuma disuruh kenalan ko yu. Ga lebih dari itu.”

Aku terdiam,Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab untuk mematikan perkataan yang di lontarkan putri. Perkataan yang menghipnotiskan aku. berusaha untuk memberhentikan kebodohanku ini.

Aku masih melihatnya dari kejauhan. Berfikir bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya. Daaan, mencoba mengenalnya lebih dalam lagi.

Aku tidak lihai merangkai kata-kata indah. Namun aku mencoba untuk merangkai kata-kata yang mungkin hanya bisa mewakili perasaanku.

Ingin ku ceritakan semua kepadanya. Dari awal aku melihatnya, hingga aku memiliki rasa yang benar-benar aku rasakan sampai detik ini. Aku mencoba memutar memori diotakku dengan sangat teliti.

Mencintai seseorang diam-diam dalam waktu yang tidak singkat. Memerhatikannya dari jauh. Melihatnya tertawa dan tersenyum bersama orang lain.

Seribu kata telah ku rangkai, namun aku tetap tidak mempunyai keberanian. Aku ragu.Aku terlalu takut untuk menghadapinya. Hingga aku berlari sambil berderai air mata, terus berlari sekencang mungkin tanpa tahu arah harus kemana aku menghindar. Hingga akhirnya aku berhenti berlari. Aku menghelakan nafas. Mencoba menenangkan hati, mencoba menahan luka.

Aku memang bodoh! untuk apa aku menangisi seseorang yang tak pernah menangisiku, merindukan seseorang yang tak pernah  merindukan aku, bahkan memperjuangkan seseorang yang tak ingin memperjuangkan aku juga.

Aji. Ya, pria itu bernama Aji. Aji yang membuat aku terhipnotis olehnya. Membuat aku tak berdaya di depannya. Membuat mulutku membisu di hadapannya. Kita tak pernah saling berbicara. Jangankan mengajaknya berbicara padaku. Say “hello” pun aku tak mampu. Aku tak tahu darimana aku akan memulai pembicaraan dengannya. Sehingga menjadi percakapan manis. Aku tidah tahu. Ya, aku menyerah. Aku berfikir aku akan lebih nyaman dengan posisiku yang seperti ini. mencintainya diam-diam, memerhatikan setiap gerak-geriknya.

Aku coba berlari dari kenyataan. Aku mencoba menghapusnya dari khayalan. Aku berusaha semampuku. Namun, aku tetap saja tak bisa. Aku tetap memberikan air mata ini untuk sosoknya. “ Ji, lihat aku disini. Berderai air mata. Lihat aku! Apa kamu sadar, ada aku yang memperjuangkanmu”.

Aku berfikir keras. Apa lagi yang harus aku lakukan. Aku sudah bertekad menghapusnya dari khayalanku. Aku berfikir semakin keras. Berbaring di tempat tidur, ku dekap guling, sesekali ku lemparkan pandanganku ke arah langit-langit kamar. Mencari jawaban dari semua pertanyaanku.

Matahari kembali memancarkan sinarnya. Namun sayang kali ini aku tak seperti dia yang selalu bersinar. Mataku sembab, aku seperti tak ada gairah hari ini. Aku seperti tak menemukan diriku yang dulu lagi. Aku seperti kehilangan sosok ayu yang bersinar setiap harinya.

Jam menunjukkan waktunya mahasiswa dan mahasiswi bubar. Aku masih sendiri didalam ruangan, masih memikirkan hal-hal yang tidak ada artinya itu. Aku semakin gelisah, sehingga aku memutuskan untuk pulang.
Aku terus berjalan, tanpa menghentikan langkahku. Aku terus berjalan, kepalaku tertunduk, seperti tak punya semangat. Aki terdiam, menghentikan langkahku sejenak,melihat-lihat keadaan di sekelilingku. Aku menemukan sosok itu. Ya, Aji. Seperti biasa, ia terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang yang biasanya ia antar pulang.

Aku menghelakan nafas. Lalu,aku melanjutkan langkah demi langkah kakiku. Aku melangkah, semakin cepat langkah ini, dan sangat cepat. Aku mencoba menghindar dari sosoknya. Aku mencoba dia cepat berlalu didekatku dan dihadapanku. Namun, saat aku melangkahkan kaki didepannya,langkah kakiku terhenti. Aku mendengar suara seorang pria. Ia memanggil namaku. Suara itu.......... Aku merasa tidak asing dengan suara itu. Aku menolehkan kepalaku.Ya, suara itu..... suara Aji. Ia memanggil namaku? Ia tahu aku? Ya Tuhaaaaan....... Darimana ia tahu namaku...... Jantung ini begdegup kencang, semakin kencang. Rasanya, luka ini sedikit demi sedikit terobati.Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis dari bibirku. Mulutku membisu. Aku bingung harus jawab apa.

“Ayu, ayo kita pulang.”
“apa? pulang? Bukannya kamu sedang menunggu kekasihmu yang biasanya kamu antar pulang?” Aku bingung kenapa tiba-tiba ia mengajakku pulang. Bukankah ia menunggu sosok wanita itu.....?

“Kekasih? Dia bukan kekasihku. Dia adikku yuu....”

Aku tersenyum lebar,menatap matanya.Aku tidak banyak berbicara dihadapannya.

Tuhan memang adil.Setelah air mata pasti ada tawa. Setelah lama menunggu pasti ada yang datang. Setelah luka pasti ada bahagia. 




Sabtu, 26 Oktober 2013

BULAN


Mentari mulai tenggelam, cahaya siang mulai redup. Seakan-akan memberitahu kepada sang bulan untuk menggantikan ia menerangi dunia dalam gelapnya malam. Hanya malamlah yang mampu memanjakan aku, yang mampu mengerti apa yang aku rasakan. Karena malam hari aku tak pernah merasakan kesepian. Selalu ada teman. Teman dilangit sana. Bulan dan seribu bintang. Ya, Mereka adalah teman dalam gelapnya malam yang nyata.

Aku menikmati malam sendirian. Menikmati dinginnya malam sendiri. Rasanya ingin sekali menghadirkanmu disini bersamaku. tapi aku tahu itu sangat mustahil bagiku. Mengingatku pun mungkin kau tak mau lagi atau mungkin kau sudah lupa denganku. 

Biarlah, kau tak mengingatku lagi. setidaknya ada teman dalam malamku. Seribu bintang dan bulan. Terkadang aku cemburu kepada mereka. Beruntungnya kau bulan, setiap malam ada yang selalu menemanimu menerangi malam. Mungkin kau selalu menumpahkan semua kegelisahan, kesedihanmu, menggantikan air matamu menjadi canda dan tawa. Hingga kau merasa seolah baik-baik saja.

Ingin rasanya ku pinjam bintangmu. ku bawa pulang sejenak, lalu ke kembalikan disisimu lagi. namun, aku tau kau pasti tak ingin kehilangan ia walau sejenak. karena aku tau, siapapun pasti tidak mau bintangnya di pinjam walau untuk sementara.

Bulan,aku sadar ,aku tak perlu cemburu kepadamu. karena pasti dalam malam, kau dan bintangmu mampu menemaniku dan mampu menghilangkan rasa penat yang aku rasakan.

Minggu, 08 September 2013

sesal



Aku masih ingat ketika awal pertemuan kita. Awal pertama kita bertemu, tersenyum walau tidak mengenal satu sama lain. Sampai saat dimana kita mengenal satu sama lain. Waktu terus berlanjut, dan kita pun semakin dekat layaknya teman dekat. Ia berikan semua perhatiannya kepadaku. Ia sempatkan waktu yang ia punya untuk aku.

Perhatian khusus? Ya,  Perhatian khusus untuk aku. perhatian yang tidak pernah aku duga sama sekali, perhatian yang mempunyai arti besar. Perhatian yang mewakili perasaannya untuk aku. Awalnya aku mengetahui perasaan yang ia punya dari teman-temanku. Tapi aku tidak pernah menanggapinya dengan serius. Mungkin karena memang aku menganggapnya hanya teman, tidak lebih dari itu.

Aku tidak mudah percaya dengan mulut-mulut diluar sana. Aku lebih percaya bila ia sendiri yang mengatakannya kepadaku. Tetapi rasa percaya akan adanya perasaan itu terbukti ketika ia memintaku untuk menjadi bagian dari dirinya. Menjadi kekasih yang mungkin bisa menemaninya dalam sela-sela waktu yang aku punya. Jujur saja, aku tidak pernah mempunyai rasa yang sama kepadanya. Setitikpun rasa cinta tak ada untuk sosoknya. Hanya ada rasa sayang layaknya sebatas teman. Dan aku pun tak pernah menjawab akan rasa yang ia punya.

Aku memang menghargai perasaannya. Tapi aku tak sanggup untuk menjawabnya. Aku tak punya keberanian untuk menjawab rasa yang ia punya untukku. Aku tak ingin memberikan jawaban yang mungkin akan menjadi beban. Aku bingung, aku linglung. Setiap bertemu serasa tak seperti dulu. Tak seperti sebelum ia menyatakan perasaan itu.Aku sadar, aku telah melukai hatinya. Melukai perasaan yang mungkin benar-benar tulus untuk aku. Membuatnya menangis... menangisi seseorang sepertiku ini.

Namun sekarang.... Ia menjauh.... Mungkin rasa yang ia miliki telah pudar, pudar dengan sendirinya. Atau mungkin ia lelah menunggu satu jawaban yang ia harapkan sejak dulu. Aku merasa ada yang hilang dari hidupku. Ya, mungkin kamu. Kamu yang dulu selalu memintaku untuk jadi bagian dari jiwamu. Aku merasa,aku telah kehilangan sesuatu yang ada pada dariku. Aku merasa telah melepaskan sesuatu dari tanganku. Melepaskan agar ia pergi dengan begitu saja.

Tanpa aku sadari, aku telah mulai menyayangi sosok yang dulu pernah memperjuangkan aku. sosok yang selalu menyisihkan waktunya untuk aku. seseorang yang selalu manghiraukan aku, memberi perhatian untuk seseorang yang selalu menghiraukannya. Ia pergi disaat aku mulai mengaharapkannya. Ia telah mempunyai kehidupan baru. Yang mungkin bisa membuat hidupnya lebih indah.dan aku berharap, wanita yang saat ini telah bersamanya,wanita yang lebih baik dariku.

Sabtu, 07 September 2013

akhir cinta ini



Sudah 6 bulan lebih aku menjalin hubungan bersamanya. Kali ini aku merasa dia sangat tidak peduli kepadaku. Dia sibuk dengan teman-teman sekawannya. Tanpa ingat secuil pun, bagaimana rasa rindu yang aku milikki. Aku merasa ada yang menghilang dalam diriku, aku merasa hampa.

Mungkin memang kebahagiaannya bersama teman-temannya,tak mengizinkan ia untuk merasakan apa yang aku rasakan. Atau mungkin ia merasakan tapi tak ingin mengungkapkan. Aku ingin mengungkapkan rindu ini kepadanya. Namun, ia tak memberiku kesempatan untuk berkata. 

Aku merasa ada janggal dengan keadaan ini. Aku merasa dia sudah tak menyayangiku. Tapi aku tak berani untuk menanyakan, “apa ia masih memiliki rasa sayang untukku?”. Aku lebih memilih mencurahkan isi hati kepada Tuhan dan aku juga membawa secuil namanya dalam doa-doaku. Semua itu agar aku dapat melepas sedikit demi sedikit beban pikiran yang ada.

Hari ini tanggal dimana statusku dan dia bertepatan 7 bulan dan tepat dihari ini juga aku genap berumur 14 tahun . Dengan sengaja aku tak mengingatkannya. Aku ingin memberikan sesuatu, sesuatu yang mungkin selalu dapat dikenang olehnya. Walaupun seharusnya bukan aku yang harus melakukan ini . 

Waktu berjalan terus dan terus.... Mungkin dia benar-benar lupa ada apa dengan hari ini. Dia tidak melangkahkan kaki sedikitpun kearah kelasku. Bahkan, dia belum memberikan ucapan kepadaku. Jangankan memberikan ucapan ‘selamat ulang tahun’ untukku, dia saja belum memberikan satu katapun yang keluar dari mulutnya untukku.
Terik mentari mulai redup sedikit demi sedikit. Memberikan isyarat kepada manusia, sore hari sudah menghampiri. Aku masih dihari yang sama, aku masih dalam suasanya yang sama. Masih dalam suasana menunggu sebait kata yang mungkin ia lontarkan untukku. ya, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, ia menghampiriku dengan perlahan. Sesampainya dihadapanku, rasanya ingin sekali aku mencurahkan banyak kata kepadanya. Tapi ini bukan saatnya untuk membicarakan hal itu. 

Ia memulai percakapan antara aku dan dia. namun percakapan itu tidak mengarah ke arah ‘hari ini tepat aku dan dia memulai rasa bersama’ . Ia hanya mengawali dengan senyuman dan kata ‘Hai’ , ya... dia menyapaku, tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Selanjutnya ia membicarakan apa yang ada dihatinya. Ya, benar sekali. Dia mengucapkan satu kalimat, dan melanjutkannya dengan pertanyaan seperti ini ........ “ Hai, aku sudah ga sayang lagi nih sama kamu. Gimana nih?”. Dalam suasana itu aku terus terdiam. Ingin menangis tapi hati tidak mengizinkan air mata ini untuk membasahi pipi. Akhirnya aku menjawab, akhirnya pula aku siap untuk kehilangannya, dan akhirnya hadiah sepucuk bunga mawar dan satu setel baju untuknya aku berikan kepadanya. Ternyata awalan percakapan ‘Hai’ itu memberi tahu aku bahwa kata ‘Good bye’ pasti akan hadir. Yang tadinya ingin memberikan kenangan manis, malah berbuah pahit.Mengharapkan kata ‘selamat ulang tahun’ pun tak ku dapat darinya. Mengharap ia ingat akan ‘hari ini tepat aku dan dia memulai rasa bersama’  malah berujung juga pada  ‘hari ini tepat aku dan dia mengakhiri rasa bersama’.

Mungkin ini memang akhir cerita cinta ini. Mungkin rasa yang masih aku rasakan harus aku kubur dalam dalam, sedalam mungkin, se-bisa ku, dan se-mampuku.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Selamat Tinggal



Aku mempunyai kekasih yang sangat aku sayangi. Hari-hari yang aku jalani tak luput dari sosoknya. Ia pernah berjanji tidak akan meninggalkan aku sendiri. Aku percaya dengan janjinya. Karena memang sebelumnya dia tak pernah ingkar dengan janji-janjinya kepadaku.Setiap waktu aku tak pernah kehabisan kata-kata. Aku merangkai kata-kata tersebut, hingga menjadi rangkaian indah dihati ini. 

Setiap hari ia memberikan kabar tentangnya untukku. Bagaimana keadaannya hari ini, apa yang dilakukannya hari ini, apa yang ada dalam fikirannya, hingga siapa sosok wanita yang ada dihatinya sampai detik ini. Semua itu sangat indah,dan begitu indahnya.

Tiada hari tanpa tertawa bersamanya. Tiada hari tanpa tersenyum dengan penuh keikhlasan. Aku seakan-akan yakin akan bahagia bersamanya seumur hidupku. Namun semakin hari, waktu semakin membuktikan. Hubungan aku dengannya semakin lama semakin renggang ,bahkan semakin retak.Kehangatan dalam hubunganku semakin hilang. Entah kemana kehangatan itu pergi, aku tak tau. Aku pun tidak tau apa penyebab retaknya hubungan ini.

Ketika benteng hati yang telah aku buat dengan susah payah, kini retak begitu saja. Bahkan, benteng hati ini hancur dengan perlahan-lahan. Kamu yang membuat aku kuat hingga aku mampu membangun benteng hati ini,Tapi kamu juga yang membuatnya hancur. Aku selalu bertanya-tanya, “Apa aku sanggup untuk menatanya kembali? Aku mencoba untuk menatanya, namun hasilnya? Nihil. Aku tak sanggup menatanya. 

Kamu menghilang tanpa kabar sedikitpun. Kamu bagai angin yang berlalu sangat cepat,Datang dengan sendirinya lalu menghilang begitu saja. Saat ini aku sangat merindukanmu, sungguh aku merindukanmu. Tak ada satupun kata yang mampu mewakili betapa rindunya aku kepadamu.Sesungguhnya aku lelah. Ya, lelah memendam rasa rindu ini,tanpa tahu apakah rasa rindu ini dirasakan juga olehmu?
Sehari, Dua hari, Tiga hari, bahkan berhari-hari, berbulan-bulan aku menunggu kabar darimu. Namun, kabar yang aku tunggu tak kunjung menghampiri. Dirimu menghilang. Aku ingin mengirimkan pesa singkat kepadamu. Pesan singkat yang isinya mungkin tidak berarti bagimu, dan mungkin tidak membekaskan luka. Tapi, isi pesan singkat itu pasti akan menusuk bahkan dapat menumbus hingga titik dasar dalam hati ini. Aku berfikir panjang, apakah keputusan yang ingin aku ambil itu baik atau malah akan menjadi beban untukku?Aku baru ingat hari ini adalah ulang tahunnya. Jika aku tetap pada keputusanku, aku takut memberikan moment terburuk baginya. Aku tidak ingin itu terjadi.

Namun sampai pada akhirnya waktu mempertemukan kita, walaupun suasana yang amat pahit. Sangat pahit! Pertemuan yang tak pernah aku duga sebelumnya. Tuhan mempertemukan aku dengannya saat ia sedang bersama seorang wanita. Ia melihatku bersama dengan teman-temanku. Tanpa ku sadari, ia dan wanita itu melangkah menuju ke arahku.Ternyata,yang paling tidak pernah aku duga sama sekali, Ia menghampiriku hanya ingin mengucapkan kata pisah dan ia juga mengenaliku kepada wanita cantik yang berdiri di sampingnya. Ya, dia mengkhianatiku. Aku hanya membalasnya dengan tangisan, tanpa ada satu katapun yang terlontar dari mulutku. Aku tidak mempu membendung air mataku dan rasanya lutut ini tak mampu lagi membantuku untuk berdiri. Kisah cinta ini memang harus berakhir, walaupun hati benar-benar menolaknya karena tidak ingin merasakannya. 

Suasana hari ini memang benar-benar berbeda dengan suasana saat ia masih bersamaku. Aku marah, aku kesal, aku kecewa, aku sedih, aku sakit.Benteng hati yang dulu benar-benar kokoh. Kini? Hanya tersisa debu. Tapi harus aku akui memang tidak mudah melupakan sesorang, apalagi jika benar-benar tulus mencintainya.
Waktu bergulir sangat cepat. Sampai Tuhan menggantikan tetesan air mataku menjadi sebuah senyuman . Angin seakan membawaku bertemu dengan sosok itu. Sosok yang lebih layak aku katakan ‘Sempurna’. Sosok yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Sampai waktu dimana aku lupa akan peristiwa pahit yang pernah aku rasakan. Sekarang, aku menemukan kebahagian yang benar-benar sangat aku nikmati bersamanya.

Di saat aku merasa benar-benar menemukan seseorang yang lebih pantas untukku, masalaluku menghampiri kehidupanku lagi. Ya, seseorang yang dulu pernah menaburkan duri dan memberikan luka hati. Luka yang sangat sulit untuk dideskripsikan. Luka yang sangat sulit untuk disembuhkan. Ia datang kembali untuk meminta maaf , menyesali perbuatannya, dan memintaku kembali padanya. Menyesali karena telah mengkhianati cinta yang dulu pernah aku berikan sepenuhnya untuk dia.Aku tahu dalam hati ini masih ada sosoknya, namun rasa itu hanya setitik saja. Hatiku telah diisi oleh sosok lelaki lain. Lelaki yang dapat mengobati luka dalam hatiku. Lelaki yang mampu merebut hatiku. Lelaki yang mampu membuatku bergairah. Aku sudah lama memaafkannya dan melupakan masalalu itu. Tapi aku tidak bisa menerimanya kembali, karena memang hati ini telah dimiliki sosok lain. Sosok pangeran yang mungkin akan membuat hidupku lebih baik dimasa depanku.