Kamis, 27 Oktober 2016

Arti Kata Maaf

Maaf. tiada kata yang mampu menandingi kata maaf.
karena apa?
Karena terkadang dengan kata maaf kita dapat meluluhkan hati seseorang yang terluka.

Tapi selalu saja ada yang salah mempergunakan kata maaf.
Diminta, namun tak diingat. Diminta namun tak diperbaiki.
Diminta, namun diulang kembali.

Terlalu banyak yang aku dengar kata maaf itu.
Kau lupa atau sengaja?
Kau tak ingat atau main-main?

Pergilah jauh.
Semoga kata Maafmu takku dengar lagi.
Semoga kesalahanmu membuatmu malu untuk kembali.

Senin, 04 Agustus 2014

Karena Cinta akan Temukan Jalannya


Aku mencintaimu tapi itu tidak mudah membuatmu ada disini untuk bersamaku. Aku sadar, aku hanya mencintaimu dalam keheningan. Aku ingin menyentuhmu namun dirimu masih ada dianganku. Aku berkhayal sesuka hatiku. Tanpa peduli khayalku akan terwujud ataupun sebaliknya.


Aku tidak punya keberanian untuk mengatakan bahwa aku inginkan kamu bersamaku. Tapi aku takut kehilangan kesempatan untuk mewujudkan mimpiku.


Aku sembunyi untuk melihatmu dari kejauhan. Memandang senyum manismu yang membuatku tenang. Aku tahu kau menyadarinya. Aku mencari waktu untuk mendekat, setidaknya untuk menyapa dirimu.



Aku akan terus menunggumu datang kepadaku. Aku tak pernah mengira bahwa aku akan sekuat ini. Aku terobsesi padamu dan rela menunggu sekian lama.


Aku tidak akan pernah menyerah. Aku mencoba dan terus mencoba untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Karena Cinta akan temukan jalannya.

Selasa, 08 Juli 2014

Jatuh cinta diam-diam










Tau ga rasanya memendam perasaan sendirian? Contohnya jatuh cinta diam-diam.


Mencintai tanpa berharap lebih. Mencintai tanpa meminta balasan apapun. Mencintai tanpa diketahui oleh siapapun.



Mengenalnya tanpa dikenalnya. Memerhatikannya menjadi salah satu kebahagianku. Senyumannya memberi warna disetiap hariku. Tawanya membuat aku kuat menjalani kenyataan yang aku hadapi. Kenyataan bahwa tawanya bukan karenaku. Bagaimana bisa aku membuatnya tertawa? Aku hanya mengenalnya tanpa di kenalnya.



Terkadang aku berpikir. Apakah yang membuat aku tertarik kepadanya? Apakah ini hanya ketertarikan sementara? Apakah aku salah mengartikan perasaan ini? Apakah aku salah betindak seperti ini? Apakah akhir dari semua rasa ini? Apakah.......... ah sudahlah. Percuma. Semua tanyaku tak akan pernah terjawab.



Banyak yang bilang, orang yang merasakan jatuh cinta diam-diam itu egois. Ia hanya ingin dirinya saja yang menikmati cinta itu.
Menurutku itu salah. Ia seprti itu karena ia tidak mau mengambil resiko. Resiko yang ia tanggung sendirian. Ia terlalu takut kehilangan orang yang dicintainya. Ia takut jika ia mengucapkan kata cinta kepadanya itu akan tercipta jarak yang sangat jauh.

Itulah alasanku mengapa aku lebih memilih jatuh cinta diam-diam. Daripada aku harus mengambil resiko seperti yang sudah dibahas diparagraf sebelumnya.

Sakit? Ya, tentu. Namun bagiku lebih baik seperti ini. Seperti ini pun sudah cukup membahagiakan diriku.

Entah sampai kapan aku akan mengikuti arus yang ada. Yang pasti aku selalu akan bahagia jika melihatmu bahagia, tertawa ceria, dan tersenyum manis.

Sabtu, 11 Januari 2014

Setahun Tanpamu



Setahun tanpamu, setahun berpisah dengan sosokmu, setahun memendam rasa yang masih sama seperti dulu. Setahun aku bertahan demi cintamu, setahun aku berjuang sendirian. Harus? Harus berapa tahun aku tetap menunggumu?

Apa perlu bertahun-tahun aku menyembunyikan rahasia hati ini? aku mengenalmu sudah lama, menyimpan rasa ini pun sudah bisa dibilang cukup lama. Aku ragu tuk ungkapkan semua. Kita memang pernah dekat. Pernah! Tapi waktu telah menelan rasa yang ada dihatimu. Mungkin waktu juga yang membuatmu hilang entah kemana.

Menunggu itu bukan hal mudah, menunggu membuat aku sangat kesal ! Setahun? Dua tahun? Apa kamu pikir aku sanggup menahan rasa ini? apa kamu pikir aku mampu menahan semuanya? aku wanita, aku tak mungkin memulai semuanya! tapi aku tak mau terlalu lama menutupinya. Setahun. Apa aku mampu bertahan ke tahun-tahun berikutnya untuk menunggumu!

Walau tak banyak waktu yang pernah kita lalui, walau tak banyak kata yang aku ucapkan. Walau detik tak lagi kita lalui bersama, tapi ketahuilah rasa ini masih sama seperti tahun lalu. Dan ketahuilah, aku merasakan apa yang kamu rasakan. Aku merasakan apa ynag sedang kamu lakukan. Biar saja hanya aku yang berusaha memadamkan rasa yang semakin hari semakin membara.

Melayang. Ya, dulu kamu pernah buatku terbang melayang. Melayang karena kata-katamu. Kata-kata yang membuat hatiku luluh. Luluh kepadamu. Setahun lalu sudah ku lewati tanpa adanya kata-katamu yang membuatku terbang.

Suasana hati semakin sendu. Mengingat setahun sudah aku seperti ini. Menyicipi dinginnya hari-hari. Namun, jika kedepannya masih sama seperti saat ini dan tahun lalu, aku yakin... dinginnya hari akan menjadi santapanku sehari hari.

Biarkan ku berjalan dan berdifri sendiri tanpa bayangmu lagi. Berjalan sendiri melawan arah angin yang bertiup. Walaupun aku tak begitu yakin untuk bisa tanpamu, namun apa yang bisa ku lakukan? Jalan satu-satunya adalah berdiri, melangkahkan kaki ke depan tanpa ada satupun orang yang memegang erat tanganku.

Aku terus mencoba walau sebenarnya hati berkata tak mampu. Tapi aku harus bisa untuk melupakanmu walau itu butuh waktu yang tidak singkat. Aku takkan pernah menyerah begitu saja untuk melupakanmu, tidak apa jika hati ini terluka asal aku bisa menghapus semua memori tentangmu.memori yang kamu rangkai diisi otakku, aku tak tahu apa yang aku lakukan seperti apa yang aku harapkan atau tidak. Namun aku yakin seyakin-yakinnya, aku pasti mampu melewati tahun-tahun berikutnya.





CREATED BY CARLISTA&ANISSA

Sabtu, 21 Desember 2013

Hilang arah


Dinginnya malam membuat aku terdiam. Menikmati detik demi detik sendiri hingga sang fajar datang. Aku merasa ada yang berbeda malam ini. Sekilas aku berpikir, aku seperti ini karena aku kesepian. Namun hati kecilku berkata “bukan”. Jadi apa yang berbeda malam ini?

Sepintas cahaya-cahaya seribu bintang bersinar terang satu persatu. Indahnya merekaaa... aku terpaku memandang bintang yang sinarnya mampu membuat hati tenang. Hingga aku merasa, ada teman dimalamku.

Sesekali ku lihat handphone yang sedang aku genggam. Tak ada satupun pesan singkat darinya. Tak ada kabar untuk hari ini untukku.

Pikiran kosongku tlah dirasuki olehmu. Aku membayangkanmu, aku merindukan belai kasihmu. Entah setan apa yang merasuk tubuhku malam ini. Entah harus bagaimana aku melawannya.

Aku baru ingat dia telah putuskan aku. dia berpaling dariku. dia memilih pergi bersama seseorang yang menurut dia, dapat membuat hidupnya bahagia.

Aku salah. Aku jelas salah melepaskannya. Tapi disisi lain aku ingin melihat ia bahagia dengan kebebasan yang diinginkannya.  kadang aku merasa hidupku hancur. karena semangatku telah hilang. aku ingin keluar dari belenggu ini.

Terakhir, dia marah kepadaku. dia mengatakan, aku ini pengganggu dalam hidupnya.
Apakah dia tau? Apa alasanku bersepeda pada malam hari di tengah jalan raya tanpa pelindung apapun dengan kecepatan tinggi? aku berharap ada kendaraan yang menabrakku hingga membentur kepalaku, sehingga ada kerusakan pada otakku, dan hilang semua ingatanku, juga hilang semua kenangan kita, hingga dia hilang dipikiran otakku. Hingga jika “aku dan dia” bertemu, aku tidak mengenalnya.


Aku tidak tau apa yang sedang aku lakukan. aku kehilangan arah, aku kehilangan semangat hidupku, aku kehilangan segalanya yang dulu pernah aku miliki. Aku merindukan semua yang dulu pernah aku punya, yaitu sosok “KAMU”.

Rabu, 18 Desember 2013

RINDU


Rindu. Rindu itu ketika kamu tak lagi disini. Rindu itu ketika kamu memilih untuk pergi. rindu itu ketika aku dan kamu mulai berjarak. Rindu itu ketika detik tak lagi kita lalui bersama.Rindu itu ketika “kita” menjadi “aku dan kamu”.

Rindu kebersamaan yang kita lalui. “Rindu”. Kata itu berarti besar dalam hati ini. “Rindu” tak mengenal waktu,tempat, ataupun keadaan. Rinduku untukmu seringkali datang menghantui setiap detik yang aku lewati sendiri. Aku tak ingin mengenal kata “RINDU”. Tapi rindu itu selalu inginkan aku untuk mengenalnya, membuat aku ingat akan masa lalu yang pernah aku lalui bersamamu.

Terkadang aku berpikir, apa kamu ingat waktu kita pertama dekat? Apa kamu ingat waktu kita masih saling menyayangi? Apa kamu ingat saat kita sedang menikmati dinginnya malam berdua? Apa kamu tahu,apa yang aku rasakan? Aku merindukan kenangan yang kita rajut bersama. Entah mengapa ku terus bertahan seperti ini. Kadang aku memilih untuk pergi,namun aku tak bisa melakukan itu. Aku tak sanggup. Aku tak sangguuup! Aku mohon jangan buat aku seperti ini. Aku hanya ingin kau ingat masa-masa manis yang pernah kita buat. Apakah kau ingat? Ataukah kau sudah melupakannya?

          Saat pertama kali bertemu denganmu. Tatapan matamu membuat aku jatuh hati kepadamu. Kamu tau? Aku sangat merindukan tatapan lembut itu. Kapan saat-saat itu datang kembali? Aku rindu kamu. Ya, memang aku hanya rindu kamu.

          Jika rindu itu datang, aku hanya bisa diam. Membayangkan yang pernah terjadi diantara kita. Sakit memang. Mengaku Rindumu, tapi tak di gubris olehmu.  Mengaku sayang, tapi engkau hanya diam.

Diammu membuat aku kalut. Diammu membuat aku terluka. Diammu membuatku gelisah.Diammu membuat kristal bening jatuh di sudut kelopak mata ini. Apa diammu membawa arti? Apa diammu mempunyai makna? Jika iya, apa arti semua ini?

Kapan tangan lembutmu menggenggam jemari ini lagi? Kapan ketikanmu membuat aku tersenyum kembali? Kapan aku dapat melihatmu lagi? Jika semua bisa terjadi lagi, kapan semua itu akan terulang kembali?

Kemana sosokmu yang dulu pernah siap sedia membuatku tersenyum? Kemana kata-katamu yang selalu buatku melayang? Tangan mungilmu yang sering menghapus tetes demi tetes air mataku, kini tlah tiada. Kemana dirimu yang dulu mencintai sisi gelap dan sisi terangku? Kemana rasa sayang yang dulu pernah ada? Kemana?

Kini ku sendiri menahan rindu. Mungkin hanya aku yang merasakan pahitnya merindukanmu.

Apa merindukanmu harus sesakit ini? Aku rindu kamu. Aku rindu semua kenangan yang pernah kau beri. Kapan kau sadar akan semua itu?

Tak ada yang mampu mengerti arti rindu ini. kamu yang aku rindukan pun tak mau tau arti rindu yang aku rasakan.aku lelah diperdaya oleh rindu yang aku rasakan. Asaku tak sanggup mematikan cahaya rindu yang semakin bersinar. Aku tak mampu mematikan cahaya rindu itu. Meredupkannya pun aku tak mampu !

Izinkan aku pergi dan meninggalkan rindu ini bersama dirimu yang kini pergi entah kemana. Yang mungkin pergi karena sosok lain. sosok yang lebih sempurna dibanding aku. tidak apa jika kau menginginkan itu. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui.... “ Aku sayang kamu. Aku merindukanmu” mungkin pernyataan itu sudah tak berarti apa-apa dalam hidupmu. Jika memang benar, itu tidak berarti, Abaikanlah! Abaikanlah!


Rindu itu akan hilang dengan sendirinya. Bukan! Bukan karena aku lelah akan rindu ini tapi aku tak mau terlalu memasuki dunia khayalanku. Khayalan tinggi yang mungkin dapat menjatuhkan aku. Biarlah! Biar aku simpan rindu ini dalam diam. 

Minggu, 03 November 2013

Setelah luka

Setiap hari ku lihat sosok itu di pinggir jalan tepat di depan gerbang kampusku. Menunggu seorang wanita yang biasanya dia antar pulang. Mata ini terus memerhatikan sosok itu selalu melihat setiap gerak geriknya.

“Terus aja diliatin” celetuk putri dengan tatapan sinis kepadaku.

“Dia manis sih put.Salah ga sih kalau gua cinta dia?”

“Ga salah. yang salah itu,lu ga pernah coba nyamperin dia dan coba ajak dia kenalan”

Aku tersenyum.

“ko cuma senyum? Kenapa? Ga berani? Takut? ”

Aku mengangguk pelan.

“aduh ayu, mau sampai kapan lu diperbudak sama rasa takut lu itu?”

“gua aja ga tau put”

“ga tau? Lu jawab ga tau? Kalau kaya gini terus, lu sama aja nyiksa hati lu sendiri yu” 
Tatapan lurus tepat ke arahku.

Aku terdiam. Aku benci dikasihani.

Sosok wanita yang ditunggu itu menghampiri dia. Terlihat senyum yang ia lontarkan untuk sosok wanita itu.

“sakit kan? Liatin aja terus yu”

“Dengan melihat senyumannya aja gua udah bahagia ko put.” Ucapku sambil memerhatikan ia yang sedang bersama sosok wanita itu.

“lu cuma berani menatap? Apa lu ga capek?”

Pertanyaannya terus menyudutkanku. Pertanyaan yang selalu memaksaku mendekat pada sosok itu. Pertanyaan yang terus mencoba mematikan aku, membuat aku tak bisa menjawabnya dengan cepat.

“Apa lu bilang? Bahagia?” Putri menatapku, ia terus mencari jawaban lewat tatapanku. 

Aku benci tatapan itu.

Sosok wanita itu tersenyum manja kepadanya. Bercanda tawa tanpa menyadari ada sosok lain yang memerhatikan mereka dari jauh.

“Bahagia itu sangat sederhana put. Melihat ia tersenyum, walau itu bukan dikarenakan oleh sosok gua”

“Sosok lu? Dia aja ga kenal sama lu yu....” mata putri melirik tajam ke arahku.

“Udah ah put. Terselah lah lu mau ngomong apa.” kepalaku tertunduk.

“Buat apa sih lu kaya gini terus yu. Lu tuh seakan-akan kehilangan rasa keberanian lu yu. Percuma yu, kalau dia ga tau perasaan lu itu. Percuma!” Hentak Putri kepadaku.

Aku tersenyum lembut.

Cinta terlalu rumit bagiku. Terlalu banyak hal yang tak pasti. Bodoh memang, mengapa dengan melihat senyumannya saja,kadang itu sudah membuat aku bahagia. Namun, kadang membuatku terluka. Karena aku tahu senyuman itu bukan dikarenakan oleh sosok aku.

“Lu tuh tolol tau ga yu. Lu tuh lemah banget sih. Cuma disuruh kenalan doang aja takut.”

Aku tersenyum tipis. “terus apa yang harus gua lakukan put?”
“kenalan”
“apa? duh, itu tantangan yang sangat menantang put”
“Lu Cuma disuruh kenalan ko yu. Ga lebih dari itu.”

Aku terdiam,Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab untuk mematikan perkataan yang di lontarkan putri. Perkataan yang menghipnotiskan aku. berusaha untuk memberhentikan kebodohanku ini.

Aku masih melihatnya dari kejauhan. Berfikir bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya. Daaan, mencoba mengenalnya lebih dalam lagi.

Aku tidak lihai merangkai kata-kata indah. Namun aku mencoba untuk merangkai kata-kata yang mungkin hanya bisa mewakili perasaanku.

Ingin ku ceritakan semua kepadanya. Dari awal aku melihatnya, hingga aku memiliki rasa yang benar-benar aku rasakan sampai detik ini. Aku mencoba memutar memori diotakku dengan sangat teliti.

Mencintai seseorang diam-diam dalam waktu yang tidak singkat. Memerhatikannya dari jauh. Melihatnya tertawa dan tersenyum bersama orang lain.

Seribu kata telah ku rangkai, namun aku tetap tidak mempunyai keberanian. Aku ragu.Aku terlalu takut untuk menghadapinya. Hingga aku berlari sambil berderai air mata, terus berlari sekencang mungkin tanpa tahu arah harus kemana aku menghindar. Hingga akhirnya aku berhenti berlari. Aku menghelakan nafas. Mencoba menenangkan hati, mencoba menahan luka.

Aku memang bodoh! untuk apa aku menangisi seseorang yang tak pernah menangisiku, merindukan seseorang yang tak pernah  merindukan aku, bahkan memperjuangkan seseorang yang tak ingin memperjuangkan aku juga.

Aji. Ya, pria itu bernama Aji. Aji yang membuat aku terhipnotis olehnya. Membuat aku tak berdaya di depannya. Membuat mulutku membisu di hadapannya. Kita tak pernah saling berbicara. Jangankan mengajaknya berbicara padaku. Say “hello” pun aku tak mampu. Aku tak tahu darimana aku akan memulai pembicaraan dengannya. Sehingga menjadi percakapan manis. Aku tidah tahu. Ya, aku menyerah. Aku berfikir aku akan lebih nyaman dengan posisiku yang seperti ini. mencintainya diam-diam, memerhatikan setiap gerak-geriknya.

Aku coba berlari dari kenyataan. Aku mencoba menghapusnya dari khayalan. Aku berusaha semampuku. Namun, aku tetap saja tak bisa. Aku tetap memberikan air mata ini untuk sosoknya. “ Ji, lihat aku disini. Berderai air mata. Lihat aku! Apa kamu sadar, ada aku yang memperjuangkanmu”.

Aku berfikir keras. Apa lagi yang harus aku lakukan. Aku sudah bertekad menghapusnya dari khayalanku. Aku berfikir semakin keras. Berbaring di tempat tidur, ku dekap guling, sesekali ku lemparkan pandanganku ke arah langit-langit kamar. Mencari jawaban dari semua pertanyaanku.

Matahari kembali memancarkan sinarnya. Namun sayang kali ini aku tak seperti dia yang selalu bersinar. Mataku sembab, aku seperti tak ada gairah hari ini. Aku seperti tak menemukan diriku yang dulu lagi. Aku seperti kehilangan sosok ayu yang bersinar setiap harinya.

Jam menunjukkan waktunya mahasiswa dan mahasiswi bubar. Aku masih sendiri didalam ruangan, masih memikirkan hal-hal yang tidak ada artinya itu. Aku semakin gelisah, sehingga aku memutuskan untuk pulang.
Aku terus berjalan, tanpa menghentikan langkahku. Aku terus berjalan, kepalaku tertunduk, seperti tak punya semangat. Aki terdiam, menghentikan langkahku sejenak,melihat-lihat keadaan di sekelilingku. Aku menemukan sosok itu. Ya, Aji. Seperti biasa, ia terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang yang biasanya ia antar pulang.

Aku menghelakan nafas. Lalu,aku melanjutkan langkah demi langkah kakiku. Aku melangkah, semakin cepat langkah ini, dan sangat cepat. Aku mencoba menghindar dari sosoknya. Aku mencoba dia cepat berlalu didekatku dan dihadapanku. Namun, saat aku melangkahkan kaki didepannya,langkah kakiku terhenti. Aku mendengar suara seorang pria. Ia memanggil namaku. Suara itu.......... Aku merasa tidak asing dengan suara itu. Aku menolehkan kepalaku.Ya, suara itu..... suara Aji. Ia memanggil namaku? Ia tahu aku? Ya Tuhaaaaan....... Darimana ia tahu namaku...... Jantung ini begdegup kencang, semakin kencang. Rasanya, luka ini sedikit demi sedikit terobati.Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis dari bibirku. Mulutku membisu. Aku bingung harus jawab apa.

“Ayu, ayo kita pulang.”
“apa? pulang? Bukannya kamu sedang menunggu kekasihmu yang biasanya kamu antar pulang?” Aku bingung kenapa tiba-tiba ia mengajakku pulang. Bukankah ia menunggu sosok wanita itu.....?

“Kekasih? Dia bukan kekasihku. Dia adikku yuu....”

Aku tersenyum lebar,menatap matanya.Aku tidak banyak berbicara dihadapannya.

Tuhan memang adil.Setelah air mata pasti ada tawa. Setelah lama menunggu pasti ada yang datang. Setelah luka pasti ada bahagia.