Sabtu, 21 Desember 2013

Hilang arah


Dinginnya malam membuat aku terdiam. Menikmati detik demi detik sendiri hingga sang fajar datang. Aku merasa ada yang berbeda malam ini. Sekilas aku berpikir, aku seperti ini karena aku kesepian. Namun hati kecilku berkata “bukan”. Jadi apa yang berbeda malam ini?

Sepintas cahaya-cahaya seribu bintang bersinar terang satu persatu. Indahnya merekaaa... aku terpaku memandang bintang yang sinarnya mampu membuat hati tenang. Hingga aku merasa, ada teman dimalamku.

Sesekali ku lihat handphone yang sedang aku genggam. Tak ada satupun pesan singkat darinya. Tak ada kabar untuk hari ini untukku.

Pikiran kosongku tlah dirasuki olehmu. Aku membayangkanmu, aku merindukan belai kasihmu. Entah setan apa yang merasuk tubuhku malam ini. Entah harus bagaimana aku melawannya.

Aku baru ingat dia telah putuskan aku. dia berpaling dariku. dia memilih pergi bersama seseorang yang menurut dia, dapat membuat hidupnya bahagia.

Aku salah. Aku jelas salah melepaskannya. Tapi disisi lain aku ingin melihat ia bahagia dengan kebebasan yang diinginkannya.  kadang aku merasa hidupku hancur. karena semangatku telah hilang. aku ingin keluar dari belenggu ini.

Terakhir, dia marah kepadaku. dia mengatakan, aku ini pengganggu dalam hidupnya.
Apakah dia tau? Apa alasanku bersepeda pada malam hari di tengah jalan raya tanpa pelindung apapun dengan kecepatan tinggi? aku berharap ada kendaraan yang menabrakku hingga membentur kepalaku, sehingga ada kerusakan pada otakku, dan hilang semua ingatanku, juga hilang semua kenangan kita, hingga dia hilang dipikiran otakku. Hingga jika “aku dan dia” bertemu, aku tidak mengenalnya.


Aku tidak tau apa yang sedang aku lakukan. aku kehilangan arah, aku kehilangan semangat hidupku, aku kehilangan segalanya yang dulu pernah aku miliki. Aku merindukan semua yang dulu pernah aku punya, yaitu sosok “KAMU”.

Rabu, 18 Desember 2013

RINDU


Rindu. Rindu itu ketika kamu tak lagi disini. Rindu itu ketika kamu memilih untuk pergi. rindu itu ketika aku dan kamu mulai berjarak. Rindu itu ketika detik tak lagi kita lalui bersama.Rindu itu ketika “kita” menjadi “aku dan kamu”.

Rindu kebersamaan yang kita lalui. “Rindu”. Kata itu berarti besar dalam hati ini. “Rindu” tak mengenal waktu,tempat, ataupun keadaan. Rinduku untukmu seringkali datang menghantui setiap detik yang aku lewati sendiri. Aku tak ingin mengenal kata “RINDU”. Tapi rindu itu selalu inginkan aku untuk mengenalnya, membuat aku ingat akan masa lalu yang pernah aku lalui bersamamu.

Terkadang aku berpikir, apa kamu ingat waktu kita pertama dekat? Apa kamu ingat waktu kita masih saling menyayangi? Apa kamu ingat saat kita sedang menikmati dinginnya malam berdua? Apa kamu tahu,apa yang aku rasakan? Aku merindukan kenangan yang kita rajut bersama. Entah mengapa ku terus bertahan seperti ini. Kadang aku memilih untuk pergi,namun aku tak bisa melakukan itu. Aku tak sanggup. Aku tak sangguuup! Aku mohon jangan buat aku seperti ini. Aku hanya ingin kau ingat masa-masa manis yang pernah kita buat. Apakah kau ingat? Ataukah kau sudah melupakannya?

          Saat pertama kali bertemu denganmu. Tatapan matamu membuat aku jatuh hati kepadamu. Kamu tau? Aku sangat merindukan tatapan lembut itu. Kapan saat-saat itu datang kembali? Aku rindu kamu. Ya, memang aku hanya rindu kamu.

          Jika rindu itu datang, aku hanya bisa diam. Membayangkan yang pernah terjadi diantara kita. Sakit memang. Mengaku Rindumu, tapi tak di gubris olehmu.  Mengaku sayang, tapi engkau hanya diam.

Diammu membuat aku kalut. Diammu membuat aku terluka. Diammu membuatku gelisah.Diammu membuat kristal bening jatuh di sudut kelopak mata ini. Apa diammu membawa arti? Apa diammu mempunyai makna? Jika iya, apa arti semua ini?

Kapan tangan lembutmu menggenggam jemari ini lagi? Kapan ketikanmu membuat aku tersenyum kembali? Kapan aku dapat melihatmu lagi? Jika semua bisa terjadi lagi, kapan semua itu akan terulang kembali?

Kemana sosokmu yang dulu pernah siap sedia membuatku tersenyum? Kemana kata-katamu yang selalu buatku melayang? Tangan mungilmu yang sering menghapus tetes demi tetes air mataku, kini tlah tiada. Kemana dirimu yang dulu mencintai sisi gelap dan sisi terangku? Kemana rasa sayang yang dulu pernah ada? Kemana?

Kini ku sendiri menahan rindu. Mungkin hanya aku yang merasakan pahitnya merindukanmu.

Apa merindukanmu harus sesakit ini? Aku rindu kamu. Aku rindu semua kenangan yang pernah kau beri. Kapan kau sadar akan semua itu?

Tak ada yang mampu mengerti arti rindu ini. kamu yang aku rindukan pun tak mau tau arti rindu yang aku rasakan.aku lelah diperdaya oleh rindu yang aku rasakan. Asaku tak sanggup mematikan cahaya rindu yang semakin bersinar. Aku tak mampu mematikan cahaya rindu itu. Meredupkannya pun aku tak mampu !

Izinkan aku pergi dan meninggalkan rindu ini bersama dirimu yang kini pergi entah kemana. Yang mungkin pergi karena sosok lain. sosok yang lebih sempurna dibanding aku. tidak apa jika kau menginginkan itu. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui.... “ Aku sayang kamu. Aku merindukanmu” mungkin pernyataan itu sudah tak berarti apa-apa dalam hidupmu. Jika memang benar, itu tidak berarti, Abaikanlah! Abaikanlah!


Rindu itu akan hilang dengan sendirinya. Bukan! Bukan karena aku lelah akan rindu ini tapi aku tak mau terlalu memasuki dunia khayalanku. Khayalan tinggi yang mungkin dapat menjatuhkan aku. Biarlah! Biar aku simpan rindu ini dalam diam.