Kamis, 01 Agustus 2013

Apa Ini Salahku ?


Dia memang sangat berbeda. Entah apa yang membuat sesuatu yang aku liat itu berbeda. Aku tidak mengetahui apa maksud hati ini,sehingga mataku menatapnya dengan begitu penuh perasaan. Semakin hari ku rasakan, keseharianku begitu indah,dan semakin indah bila aku dan dirinya tertawa bersama. Tuhan,apa mungkin aku jatuh hati? 

Aku memang sudah lama mengenalnya, tapi mengapa akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang amat berbeda. Menyenangkan, tapi juga menyedihkan. Menyedihkan karena aku tak sanggup untuk mengungkapkan rasa ini padanya. Apa aku harus mengungkapkan kepadanya? Ah, aku ini wanita. Apa pantas aku mengungkapkan rasa terlebih dahulu? Apa pantas? Apalagi, dia teman dekatku. Aku takut, jika nanti aku mengungkapkan ini akan membuat ia lari dariku, dan membuat aku dan dia saling berjauhan. Aku takut itu semua terjadi.

Jarak rumahku ke sekolah sangatlah jauh. Jadi,aku tidak sempat untuk sarapan dirumah. Setiap hari memang ia yang selalu membawakan sarapan untukku. Karena ia tahu, aku tak pernah sempat untuk sarapan pagi. Oh Tuhan, betapa perhatiannya ia kepadaku. Terkadang aku lelah memendam rasa ini. Tapi, aku khawatir jika ketakutanku itu menjadi nyata.

Tak pernah ku sangka, tawa itu berubah menjadi air mata. Hidupku terasa gelap ketika ku tau ia baru saja menjadi milik orang lain. Apa ini salahku yang memendam rasa begitu lama hingga akhirnya membuahkan air mata? Apa ini salahku membiarkan ia pergi sehingga ia menjadi milik orang lain?


Saat ini kita sudah tidak sedekat dulu. Apakah mungkin ia merasakan itu?. Semua berjalan begitu saja ,mengalir bagai air. Hingga saatnya waktu yang menuntun aku dan dirinya sangat berjauhan. Waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Sehingga aku lupa menanyakan satu hal kepadanya dan menurutku itu sangat penting, “Apakah ia memiliki perasaan yang sama kepadaku?” tapi sayang, waktu tidak pernah mengizinkan aku untuk menanyakan hal itu kepadanya.
 
Kisah ini seperti drama. Drama yang sangat begitu menyakitkan.Aku, dia, dan kekasihnya terperangkap dalam sebuah kotak yang bernama sekolah. Aku sudah berusaha sekeras mungkin menembus sisi-sisinya,namun asaku tak cukup kuat. Aku menyerah dan mulai menyadari satu hal, yaitu hal baru dalam hidupku selanjutnya tidak akan seindah dulu.Kemanapun aku pergi, selama aku masih berada dalam kotak yang sama dengan dia dan kekasihnya, selamanya mereka akan tetap melukai pandangannku.

Hari yang ku tempuh benar-benar berjalan sama seperti apa yang aku duga. Bahkan,teman-temannya mendukung hubungan mereka. Setiap saat aku bertanya pada diriku sendiri, “harus berapa lama lagi aku menahan rasa yang begitu amat menyakitkan ini?”

Apa gunanya cemburu bagi orang ketiga sepertiku ini? seseorang yang tidak mempunyai hak sedikitpun untuk cemburu. Apa yang bisa aku lakukan atas kecemburuanku?  Aku hanya bisa terdiam,memendam rasa. Menahan rasa sakit yang begitu dalam.

Kini dia bermain dengan seenaknya dihati ini. Padahal dahulu dia yang selalu menjaga perasaanku dengan sangat hati-hati.Aku ingin sekali,mengatakan semua perasaanku kepadamu. Namun, apadaya aku tak mampu mengatakan itu semua padamu.

Lalu, Apa arti tatapannya itu? Tatapan yang berbeda. Tatapan yang berbicara seperti mengatakan sesuatu yang tak bisa aku ketahui sampai detik ini. Aku hanya bisa menebak-nebak apa yang ia katakan melalui tatapannya. Aku mengira dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku mengira dia memintaku untuk menunggu. Aku mengira dia memintaku untuk tidak berharap banyak padanya. Aaaah!Semuanya semakin tidak nyata untukku!Sering kali aku menahan sakit yang amat begitu hebatnya. Ingin sekali aku menghapus khayalanku yang amat tinggi untuk bersamamu. Tapi, Aku tak sanggup untuk menghapusnya.

Namun,akhirnya aku memutuskan untuk menghapus rasa ini untuknya. Walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya menghapus rasa yang ada didalam hatiku ini. Entah sampai kapan aku mampu berhasil menghapus semua rasa yang ada dalam hati ini. Apakah dalam waktu 1 bulan?  1 Tahun? Atau Mungkin seumur hidup?


      MAAF. Maafkan aku. Maafkan jika aku berlebihan. Maaf,aku tidak bermaksud mengusik hidupmu. Aku terlalu takut untuk mendengarkan kejujuran dari dirinya yang mungkin akan semakin menyakitkan hati ini. Sehingga...aku lebih memilih tidak mengetahui kebenaran yang mungkin akan menjadi beban untuk diriku.


Aku tidak pernah tahu dan tak pernah menyangka, bahwa cintaku padanya sebesar ini. Namun sebesar apapun cinta yang ku miliki untuknya, aku harus segera sadar bahwa dia sudah termiliki dan tidak untuk kumiliki. Aku harus sadar bahwa memang ada cinta yang hanya boleh disimpan, dinikmati dan direlakan. Aku harus bisa merelakan sesuatu yang tidak bisa aku miliki, bukan memaksakan diri untuk memilikinya.

Kenangan itu berputar terus-menerus dimemori otakku. Aku berusaha menghapusnya. Namun aku sadar,kenangan itu akan tetap tertata rapih di dalam hati ini. Kenangan itu telah mengakar kuat dihati,bahkan kedua tanganku tak sanggup untuk mencabutnya. Aku tahu, aku tidak pernah benar-benar melupakannya. Tapi aku tidak tahu, mengapa ia begitu indahnya di hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar